Kamis, 01 Januari 2015

Tips Menghadapi Interview Kerja Untuk Posisi Akuntansi-Keuangan

Menghadapi interview kerja pertamakalinya, gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang). Terlebih-lebih untuk posisi akuntansi-keuangan
Saya katakan gampang karena sesusungguhnya tidak ada teori—selain hal-hal common-sense macam “lakukan eye-contact, jabat tangan interviewer dengan penuh rasa percaya diri, bal bla bla bla…..”
Dan, saya katakan susah karena saya meyakini, setidaknya sampai saat ini, tidak ada satu formulapun yang bisa diberlakukan untuk semua orang dalam segala kondisi.
Adapun tips yang akan saya share melalui tulisan ini, BUKAN ‘pil’ yang bisa mengubah seseorang yang unqualified menjadi ‘seolah-olah’ qualified. Melainkan sesuatu yang bisa mencegah seseorang yang qualified menjadi terlihat ‘seolah-olah’ unqualified—akibat sikap atau ucapan yang tidak pas dalam interview kerja, khusus untuk posisi akuntansi-keuangan.
Sebelum masuk ke hal-hal yang lebih detail, ada satu hal yang penting untuk diketahui namun sering disepelekan oleh job-seeker—termasuk oleh mereka yang melamar posisi di bagian akuntansi-keuangan, yaitu: tujuan mereka melamar pekerjaan.

Jangan ‘Jual Diri’ Dengan Harga Murah

Di era sosial media sekarang ini kita bisa terhubung ke banyak orang, dengan beragam latarbelakang dan karakter. Tak bisa dipungkiri, curhat adalah salah satu aktivitas yang paling digemari di sosial media. Diantara banyaknya macam hal yang di-curhat-kan, salah satunya adalah keluhan tentang pekerjaan.
Sesekali mengeluhkan tentang pekerjaan, saya pikir, adalah sesuatu yang manusiawi—‘hak segala bangsa’ shit can be happened to anybody, tetapi bila dilakukan berkali-kali maka itu adalah sesuatu yang tidak wajar, mesti ada masalah serius di dalamnya. Nah, mengapa ada beberapa orang yang nampak begitu getol mengeluh tentang pekerjaan? Apa yang salah di dunia kerja mereka?
Sudah pasti ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi merasa tidak puas terhadap pekerjaan/profesi yang dijalaninya. Salah satunya, menurut saya, disebabkan oleh perilaku “jual-diri dengan harga murah”—menjual keahlian dan kompetensi dengan harga murah—yang penting laku. Berorientasi jangka pendek.
Tak ada yang salah dengan prinsip itu—terlebih-lebih untuk kita di Indonesia di mana mencari pekerjaan adalah tantangan tersendiri. Saya bisa mengerti. Tetapi perlu disadari; prinsip “yang penting kerja” ini bisa menjadi jebakan—terutama bagi kita yang memiliki kompetensi khusus akuntansi dan keuangan.
Diawali dengan pemikiran “ah yang penting kerja dulu, nanti bisa cari pekerjaan yang lebih sesuai, sambil jalan”. Terdengar sangat realistis. Apa yang terjadi selanjutnya? Tiga bulan pertama (probation period), waktu habis untuk orientasi dan penyesuaian diri. Tahun pertama, waktu habis untuk memperbaiki kualitas pekerjaan. Dua tahun berlalu tanpa terasa. Di tahun ketiga mungkin mulai ‘sadar diri’ bahwa ini hanya pekerjaan sementara, tetapi himpitan rutinitas membuat ruang untuk pindah kerja menjadi sangat sempit.
Empat hingga lima tahun waktu berlalu tanpa terasa. Setelah itu, apakah anda masih yakin mampu melakukan pekerjaan akuntansi-keuangan? Bukannya mustahil, tetapi diperlukan kemauan, usaha dan tekad yang ekstra untuk bisa kembali ke disiplin ilmu semula (akuntansi-keuangan).
[quote]Don’t sell yourself short! Jika tidak yakin dengan posisi yang anda lamar, cari tahu hingga mendapat keyakinan yang anda butuhkan. Jika masih tidak yakin juga, sebaiknya dipertimbangkan kembali.[/quote]
Jika sudah yakin, silahkan. Tetapi, sudahkah anda tahu siapa yang akan anda hadapi saat interview nanti?

Siapa Yang Akan Anda Hadapi Dalam Proses Interview-Pekerjaan?

Terutama entry-level applicant, memiliki kecenderungan berpikir bahwa yang akan mereka temui nanti sudah pasti “orang Personalia (HRD).” Tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.
Yang melakukan pemeriksaan awal (screening) terhadap surat lamaran dan CV pelamar, IYA, orang HRD. Yang mengirimkan interview-invitation juga, IYA, orang HRD. Yang menyapa dan mempersilahkan anda duduk—ketika tiba di lokasi interview, IYA, orang HRD juga. Yang melakukan interview?
Sebagian besar perusahaan, dalam proses recruitment pegawai, melakukan dua sesi interview—entah di kesempatan yang sama atau berbeda. Tetapi tidak sedikit juga yang melakukan satu kali interview saja. Tergantung skala perusahaan, bagian dan posisi/level yang akan diisi.
Disamping melakukan screening dan mengatur proses recruitment (dari pasang iklan hingga training), HRD Manager biasanya hanya melakukan interview awal—untuk memastikan apakah anda memenuhi qualifikasi dasar yang dibutuhankan atau tidak. Sedangkan yang memutuskan apakah anda diterima untuk bekerja di sana atau tidak, adalah manajer bagian yang akan menjadi atasan anda langsung—biasa disebut “Hiring Manager”. Dalam hal ini adalah Chief Accountant atau Financial Manager.
Sehingga, anda harus siap untuk menghadapi 2 orang interviewer, dengan karakter, mindset dan tingkat kepentingan yang berbeda. Bagaimana menghadapi mereka? Kita obrolin satu-per-satu…

Interview dengan HRD Manager

Orang HRD—termasuk HRD manager, di satu sisinya berkepentingan untuk mensukseskan hajat recruitment secara keseluruhan, di sisi lain mereka adalah intermediary folk—orang yang ada diantara anda (kandidat pegawai) dan hiring manager (yang akan menjadi atasan anda kelak jika diterima.)
Kandidat sering terjebak dalam menyikapi keunikan posisi HRD ini—yang berpotensi membuat mereka menjadi gagal dalam interview:
  • Mereka (kandidat) yang tidak tahu persis posisi HRD, bisa terjebak dengan menghabiskan fokus mereka pada sesi interview awal yang dilakukan oleh HRD Manager—seteleh menunggu antrean yang bisa jadi cukup panjang. Sehingga, level stamina, antusias dan focus kandidat telah menurun drastis ketika berhadapan dengan Hiring Manager—sesi interview yang paling menentukan.
  • Kandidat yang tahu persis posisi HRD, juga bisa terjebak. Mengetahui bahwa HRD bukan pihak yang paling menentukan, membuat mereka menjadi ogah-ogahan dan cenderung menyepelekan ketika menjalani sesi interview dengan HRD. Mereka lupa kalau HRD adalah screener yang berfungsi untuk memilah-milah kandidat mana yang akan diajukan ke Hiring Manager dan kandidat mana yang dianggap tidak layak.

Penting untuk diketahui:
[quote]Karena alasan tertentu, orang-orang HRD menjadi mudah tersinggung dan mudah dilanda ‘api cemburu’.[/quote]
Apa “alasan tertentu” itu? Tidak banyak orang yang cukup peka untuk menangkap fenomena ini. Untuk kebaikan anda, saya buka di sini bahwa: rata-rata pegawai HRD menerima kompensasi (gaji, bonus, dan bentuk remunerasi lainnya) yang relative lebih rendah dibandingkan bagian-bagian lain—termasuk jika dibandingkan dengan pegawai di bagian accounting dan finance. Dan, mereka (orang HRD) tahu persis mengenai hal itu.
Bayangkan, apa yang mereka rasakan ketika berhadapan dengan calon pegawai yang baru masuk gajinya sudah lebih besar dari mereka? Dan apa yang akan terjadi jika rasa cemburu-bawaan itu disulut lagi dengan sikap  menyepelekan dari kandidat? Ngerti kan masud saya?
Saran saya: jangan berikan mereka alasan tambahan untuk tidak menyukai anda. Pandanglah posisi HRD sebagai posisi profesional yang juga berperan penting dalam nenentukan apakah anda akan masuk ke sesi interview yang menentukan atau tidak, dan hajat recruitment secara keseluruhan.
Sampai di sini, saya nggap anda sudah bisa melihat posisi HRD dengan lebih proporsional.
Menempatkan HRD sebagai profesional, bagaimana sebaiknya anda bersikap?
Seperti sudah saya singgung di awal tulisan, saya tidak punya ‘pil’ yang bisa mengubah seorang kandidat yang unqualified menjadi qualified. Sehingga qualifikasi anda adalah yang paling utama ketika menghadapi sesi interview dengan HRD. Idealnya anda memiliki kualifikasi yang memenuhi apa yang mereka harapkan—sesuai dengan posisi yang anda lamar.
Di luar aspek qualifikasi, yang perlu anda perhatikan adalah hal-hal sederhana, yang secara alamiah dimiliki oleh hampir semua orang—terlebih-lebih anda yang sudah menyelesaikan pendidikan tinggi (D3 atau Sarjana Akuntansi).
As a rule of thumb, buatlah tugas mereka (HRD) menjadi lebih mudah dan bisa berjalan dengan lancarhargai territory dan otoritas mereka. Konkretnya: tunjukan daya tarik alamiah anda dengan cara menghargai mereka secara tulus. Saat mereka bicara perhatikan dan ikuti dengan seksama—jangan sekali-kali menunjukan sinyal menyepelekan.
Secara keseluruhan, strategy utama anda dalam menghadapi interview awal (dengan HRD) adalah memberi keyakinan bahwa, jika mereka meloloskan anda ke sesi interview berikutnya, anda tidak akan mempermalukan mereka. Ada 3 hal yang harus anda tunjukan untuk meyakinkan HRD mengenai hal itu:
  • Anda memang memiliki qualifikasi yang cukup untuk bisa menjalankan pekerjaan yang anda lamar.
  • Anda memang sungguh-sungguh menginginkan pekerjaan yang anda lamar (ingat: anda hanya melamar untuk posisi yang memang anda inginkan—don’t sell yourself short!).
  • Untuk mensukseskan pekerjaan yang akan diberikan, anda siap bekerjasama dengan siapa saja, termasuk HRD.
Sepanjang tidak membuat mereka tersinggung, dan bisa meyakinkan mereka untuk ketiga hal itu, saya yakin anda akan lolos ke sesi berikutnya, yaitu: interview dengan Hiring Manager (Chief Accountant atau Financial Manager)—orang yang paling menentukan apakah anda diterima bekerja atau tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar